Beberapa Mitos dan Fakta Menyusui Bayi

Posted on

Para ahli kesehatan anak menyarankan agar para ibu menyusui anak mereka hingga usia tertentu. Memberikan air susu ibu (ASI) atau susu formula untuk buah hati adalah pilihan pribadi Anda. Dikatakan bahwa menyusui bisa memberikan manfaat yang tak bisa didapatkan oleh anak melalui susu formula kalengan. Meski begitu, masih banyak wanita yang menolak untuk menyusui anaknya dengan banyak alasan, misalkan menyusui akan membuat payudara menjadi kendur. Sebelum memutuskan untuk memberikan ASI eksklusif pada anak, ada baiknya para ibu menyimak mitos dan fakta mengenai menyusui yang diberikan oleh Health Me Up, berikut ini.

ibu menyusui bayi

Mitos: Kebanyakan wanita tidak bisa menghasilkan ASI yang cukup.
Fakta: Hampir semua wanita menghasilkan ASI lebih dari cukup, bahkan sering kali timbul permasalahan seputar pasokan ASI yang terlalu berlebihan. Seorang bayi yang kenaikan berat badannya lambat, atau bahkan cenderung mengalami kehilangan berat badan, seringkali bukan disebabkan karena ibunya tidak cukup menghasilkan ASI, tetapi bayi tersebut tidak berhasil untuk mengeluarkan dan minum ASI yang dihasilkan oleh ibunya tersebut. Biasanya, hal ini disebabkan oleh pelekatan — yaitu posisi mulut bayi pada payudara ibu — yang kurang tepat. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang ibu baru untuk segera, pada hari pertama kelahiran, dipandu untuk melakukan pelekatan secara benar oleh seseorang yang benar-benar mengerti mengenai teknik pelekatan yang tepat.
Mitos: menyusui akan membuat payudara kendur
Fakta: menyusui memang akan mengubah bentuk payudara. Namun para ahli menyatakan bahwa menyusui memberikan efek yang sangat kecil pada bentuk payudara jika dibandingkan dengan usia, berat badan, dan gravitasi.
Mitos: Hanya beberapa ibu yang merasakan rangsangan seksual ketika menyusui
Fakta: Tak hanya sebagian, hampir semua ibu akan merasakan rangsangan seksual ketika menyusui. Hal ini wajar dan bukan merupakan hal yang tabu. Ketika ibu menyusui, tubuhnya akan mengeluarkan hormon oxytocin, hormon yang sama dengan yang dikeluarkan tubuh saat mengalami orgasme.
Mitos: Stres akan mempengaruhi jumlah air susu ibuFakta: Stres tak bisa mempengaruhi jumlah air susu. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa saat menyusui wanita akan mengeluarkan hormon oxytocin. Ini akan membuat ibu menjadi santai dan air susu bisa keluar dengan lancar. Stres hanya akan menghambat keluarnya air susu karena hormon oxytocin Anda berkurang, namun tak mempengaruhi jumlah air susu yang Anda hasilkan.

Mitos: Jarang menyusui anak akan membuat air susu kering
Fakta: Secara teknis, kelenjar air susu akan memproduksi air susu dalam jumlah yang dibutuhkan oleh anak. Jika ibu menyusui anak secara teratur, maka jumlah air susu akan semakin besar. Ini sama dengan bayi yang jarang disusui. Saat mulai besar, bayi mulai membutuhkan tambahan suplai air susu melalui susu kaleng dan makanan, ini mungkin membuat para ibu mengira air susu mereka berkurang.

Mitos: Susu formula lebih baik dari air susu ibu karena mengandung lebih banyak nutrisi
Fakta: Bahkan jika ibu memberikan susu formula terbaik bagi bayi, susu tersebut tidak mengandung zat antibodi, sel hidup, enzim, dan hormon. Susu formula mengandung lebih banyak alumunium, mangan, dan zat besi daripada air susu ibu. Bayi memiliki kebutuhannya masih-masing, sementara air susu ibu dan formula memiliki keunggulannya sendiri-sendiri. Biasanya dokter akan menyarankan kombinasi dua jenis susu ini untuk bayi.

Mitos: Ibu harus menjaga makanan yang dikonsumsi dan banyak minum.
Fakta: Para ibu membutuhkan diet seimbang, artinya jangan terlalu banyak minum air dan jangan menghindari makanan secara berlebihan. Setiap wanita membutuhkan nutrisi yang berbeda untuk dipenuhi. Jangan percaya dengan mitos yang mengatakan bahwa ibu harus mengonsumsi makanan untuk dua orang. Makan sesuai dengan porsi yang dianjurkan. Begitu juga dengan cairan yang harus diminum setiap hari.

Mitos: Ibu harus berhenti menyusui ketika merasa sakit
Fakta: Sebelum tanda-tanda penyakit muncul, pasti ibu sudah menularkan penyakit itu pada anak. Untuk itu, jangan berhenti menyusui anak. Bahkan jika anak mengalami diare atau mulai terlihat sakit, sebaiknya ibu tidak menghentikan menyusui. Air susu juga bisa memberikan anak antibodi yang dibutuhkannya.
Fakta di atas membongkar mitos yang kebanyakan masih dipercayai oleh para ibu. Ini akan memberikan pertimbangan yang lebih baik bagi ibu untuk menentukan pilihan antara menyusui anak mereka atau tidak.

Gambar Gravatar

Lentera Keluarga turut mengantar menuju masyarakat Indonesia yang mandiri dan sejahtera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *