Istri Harus Punya Skill Managerial

Posted on

Di balik keberhasilan dan kehebatan suami, ada istri yang kuat. Pepatah ini sering digembor-gemborkan seiring banyaknya pria yang berhasil dalam segala bidang. Astrid Wiratna, psikolog keluarga mengatakan, sepanjang zaman pepatah itu memang terbukti ampuh. Di sini suami dan istri ini mampu memainkan perannya masing-masing. Mengapa demikian? Hal ini tidak lepas dari teori peran keluarga yang ada dalam psikologi sosial.

Istri Harus Punya Skill Managerial

 

Istri Harus Punya Skill Managerial

Peran keluarga ada tiga macam, yakni peran ayah, ibu dan anak. Pembagiannya pun cukup jelas di area  domestik atau rumah tangga. Secara sosial pada umumnya suami dituntut untuk bekerja dan mencari nafkah. Sedangkan istri, dituntut untuk mengurus rumah dan anak.

Namun, dalam perkembangan modern, peran istri mulailah bertambah yakni untuk mengembangkan keilmuan dan teknologi yang didapatnya. Istri-istri ini mulai eksis dalam berbagai pekerjaan yang ditawarkan. Meski demikian, jika peran keduanya ini sejalan, maka kondisi keluarga akan tetap baik.

Hal ini pun berlaku ketika sang suami konsentrasi dalam pekerjaannya sebagai kepala rumah tangga. Jika istri di rumah melakukan perannya dengan baik, misalnya mengurus anak, menjaga rumah atau mengatasi persoalan di lingkup masyarakat sekitarnya dengan baik

Maka, suami akan lebih fokus dengan pekerjaannya di luar rumah. Sekembalinya di rumah juga sama, istri mampu meringankan beban pekerjaan suaminya. Pasangan ini saling berbagi, suami cerita masalah pekerjaan dan istri juga sebaliknya, akan lebih ringan dan enjoy.

Meski terkadang, tetap ikut campur dalam persoalan di rumah, tapi konsentrasi suami akan tetap terfokus di pekerjaan. Sebaliknya, jika istri tak mampu memanage perannya di rumah, maka konsentrasi suami akan terpecah. “Kondisi pembagian peran yang baik ini benar-benar mampu membuat fokus suami terhadap pekerjaan sukses,” tegasnya berkali-kali.

Namun, jika tidak terjadi pembagian peran yang bagus, muncullah multi peran. Semisal, suami yang bekerja juga “double” mengurus pendidikan anak, antar jemput anak dan lainnya. Jika pun peran ini bisa memajukan karier suami, tapi ada kemungkinan keberhasilan ini akan lama sekali digapai.

Peran keluarga ini memang harus diomongkan dengan baik, supaya keluarganya juga baik-baik saja. Oleh karena itu, semua pasangan harus mampu mengelola dan menyesuaikan tuntutan perannya masing-masing. Jika peran ini tidak berjalan baik, bisa terjadi ketidaksepakatan yang akan memunculkan konflik peran.

Banyak pasangan yang memilih bercerai karena tidak bisa memainkan perannya dengan baik, atau tidak memanaje diri. Oleh karena itu, seorang istri harus memiliki skill managerial peran yang baik. Peran-peran keseimbangan ini perlu dikomunikasikan dengan baik agar sesuai dengan kemauan masing-masing.

Gambar Gravatar

Lentera Keluarga turut mengantar menuju masyarakat Indonesia yang mandiri dan sejahtera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *