Menjadi Ibu Istimewa Untuk Osha

Posted on

Bagi anak berkebutuhan khusus (autisme, down syndrome, hiperaktif, dsb) fungsi ibu yang kuat, tabah, tegas lebih diharapkan, agar anak istimewa dapat menolong dirinya sendiri. Berikut kisah menjadi Ibu Istimewa Untuk Osha.

Natrio Catra Yososha atau yang akrab dipanggil Osha adalah anak ketiga. Ia bertahan dalam rahim selama 10 bulan, lahir sehat sampai bulan keempat. Anakku tumbuh jadi bayi yang sangat anteng dan tidak cengeng, tak pernah menangis minta gendong, sekalipun pada saat ia sakit, ia hanya diam tergolek lesu dengan mata sayu.

Menjadi Ibu Istimewa Untuk Osha

Ketika mulai belajar tengkurap, duduk, merangkak hingga belajar jalan, tak pernah kudengar menangis ketika kepala atau badannya terantuk dan membentur sesuatu hingga memar sekalipun. Bahkan pernah saat kepalanya digetok botol susu oleh abangnya pun dia cuma meringis dan kembali asyik bermain dengan jari-jari tangannya. Terjatuh dari kereta bayi yang mengakibatkan benjol didahinya sebesar telur puyuh, ia cuma merengek sebentar saja lalu mulai asyik bermain dengan jarinya sendiri.

Tapi anehnya Osha selalu rewel ketika dipakaikan pampers, pakaian-pakaian tertentu, topi maupun sepatu, begitu pula bila mendengar suara orang bersin, tangisan anak lain, tawa yang keras, atau mendengar suara mobil-mobilan yang dimainkan kakaknya di lantai yang menimbulkan suara berdecit, dan suara-suara lain yang rasanya tidak semestinya mengganggu telinga normal. Bagi anakku semua itu bisa membuatnya terperanjat dan menangis ketakutan. Pada umur 1,5 tahun ia belum dapat berbicara, hanya suara-suara yang sulit dimengerti yang keluar

Ia takut dan tidak nyaman berada di tempat umum, perhatiannya tidak pernah dapat fokus, kadang sibuk bermain dengan jari-jarinya sendiri. Setelah mulai besar, bila dibawa ke mall atau ke tempat keramaian, tampak sekali takut dan tidak nyaman, dari datang sampai pulang. Osha selalu menutup matanya rapat-rapt dengan kedua tangan menutupi telinga, hingga aku terpaksa menuntun Osha dengan memegangi sikunya, setelah masuk kendaraan sendiri baru dia merasa aman, mau membuka mata dan melepas tangan yang menutupi telinganya.

Ketika mulai bisa berjalan, gerakannya aneh dan tak ada kendali, seperti mobil tanpa rem dan kemudi, apapun yang ada di depannya ditabraknya saja. Bila sedang merasa tidak nyaman atau sedang sangat gembira, tangannya melambai-lambai dan mengepak-ngepak seperti anak burung belajar terbang. Terkadang sambil merunduk-runduk atau menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan ke belakang, seperti yang kulihat waktu aku kecil dulu, ketika dua orang menggergaji balok kayu untuk membuat papan.

Ada lagi kesukaannya yang aneh dan unik yaitu menikmati dengungan mesin cuci, setiap dia melihat aku mengangkut pakaian kotor ke tempat cuci, laksana pendekar mabuk yang ketakutan dikejar lawan, ia akan berlari terseok-seok tak seimbang untuk mendahului di depanku, lalu berjongkok di samping mesin cuci untuk mendengarkan dengungan mesin cuci bekerja.

Melalui beberapa kali penolakan di sekolah biasa dan luar biasa, Osha ahirnya dapat bersekolah. Ia belajar bermain musik yang mampu membiusnya untuk tenang dan memfokuskan perhatiannya. Tidak hanya ia kini mampu bermain biola, melainkan juga bisa diterima di tiga perguruan tinggi yaitu UI, UGM dan Unika USD di Yogyakarta. Ia memilih Fakultas Ilmu Budaya UGM jurusan Arkeologi, sesuai dengan minatnya sejak kecil, yaitu sejarah dan kepurbakalaan, dan ini betul-betul diluar perhitungan saya, karena prestasi akademik sudah sejak lama bukan lagi target utama.

Yang menjadi harapan saya, hanyalah ingin melihat anak saya hidup lebih normal dan bisa mendapat penerimaan yang baik dan apa adanya dari lingkungannya dimanapun dia berada, itupun masih dengan satu catatan bahwa saya tetap harus siap menerima risiko kegagalan dan kekecewaan. Saya harus siap menerima apapun yang terburuk yang harus saya terima, tapi subhanallah… ternyata anak autis saya mampu memberikan yang terbaik yang bisa dia lakukan, lebih dari yang bisa saya perkirakan. Saya sadar tanpa campur tangan Tuhan, mungkin ini tidak akan pernah terjadi, saya tahu bahwa ini bukanlah hasil kerja saya sendiri, melainkan karena begitu banyak pihak yang terlibat dalam penanganan permasalahan anak saya.

Kisah menjadi Ibu Istimewa Untuk Osha di atas diceritakan oleh Ibu Henny, ibu dari Natrio Catra Yososha pada DESEMBER 2008 saat Osha berumur 19 tahun. Telah dimuat di rubrik RUANG INTERAKSI WBC yang diasuh oleh Ratna Sugeng, seorang Psikiater. – Lentera Keluarga

 

Gambar Gravatar
Lentera Keluarga turut mengantar menuju masyarakat Indonesia yang mandiri dan sejahtera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *